Jumat, 28 Oktober 2011

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG


Pengertian Kesehatan Masyarakat menurut Winslow (1920) adalah Ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multi disipliner, karena pada dasarnya masalah Kesehatan Masyarakat bersifat multikausal, sehingga untuk menyelesaikan atau pemecahan masalah dilakukan secara multidisiplin. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental, dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental, sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2003).


Ilmu kesehatan masyarakat merupakan suatu rentetan sejarah panjang kehidupan manusia dan lingkungannya, dimana perkembangannya di seluruh dunia terkait satu dengan lainnya. Terdapat momentum-momentum sejarah perkembangan kesehatan masyarakat yang merupakan tonggak awal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kesehatan masyarakat saat ini.Sejarah kesehatan masyarakat di negara-negara maju mempunyai peran terhadap perkembangan ilmu dan tekhnologi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Masyarakat di Negara Maju
Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu pengetahuan saja melainkan sudah dimulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani dan Roma telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut tercatat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.
Pada zaman ini juga diperoleh catatan bahwa telah dibangun tempat pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrine tersebut bukan karena kesehatan. Dibangunnya latrine umum pada saat itu bukan karena tinja atau kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak enak dan pandangan yang tidak menyedapkan.Demikian juga masyarakat membuat sumur pada waktu itu dengan alasan bahwa minum air kali yang mengalir sudah kotor itu terasa tidak enak, bukan karena minum air kali dapat menyebabkan penyakit (Greene, 1984).
Dari dokumen lain tercatat bahwa pada zaman Romawi kuno telah dikeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan masyarakat mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan adanya binatang-binatang yang berbahaya, dan binatang-binatang piaraan yang menimbulkan bau, dan sebagainya. Bahkan pada waktu itu telah ada keharusan pemerintah kerajaan untuk melakukan supervisi atau peninjauan kepada tempat-tempat minuman (public bar), warung makan, tempat-tempat prostitusi dan sebagainya (Hanlon, 1974).
Dari catatan-catatan tersebut di atas dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran-penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas dan dahsyat, namun upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan oleh orang pada zamannya.

Ruang Lingkup dan Permasalahan dalam Sejarah Kesehatan Masyarakat (themes and problems in the history of public health)
Beberapa permasalahan terjadi berkaitan dengan kebijakan, pola pikir, garis batas negara dan kepentingan dalam sejarah kesehatan masyarakat, diantaranya adalah :

a.      Masyarakat dan Negara
Negara dan masyarakat bukanlah suatu istilah yang bisa saling dipertukarkan. Namun negara yang berkaitan dengan penduduk, akan berbeda kebijakan terkait hubungan kesehatan dari masyarakat dalam kelompok warga, pembicaraan secara rasional dan keritikal terkait keduanya hampir sama.

b.      Keragaman Negara
Saat segala pertimbangan bisa diterima secara luas dan telah menjadi agenda pertanggung jawaban negara, tidak semua negara melakukan reaksi terhadap hal tersebut. Fokus kesehatan masyarakat masih berada di tingkat lokal, yang tanggung jawab dan yurisdiksinya kadang tidak jelas dan tumpang tindih. Namun negara sendiri menjadi suatu unit yang dibentuk untuk mengatasi masalah secara global tidak hanya sekedar hal yang terkait dengan manusia saja.

c.      Tujuan Negara
Jika saat ini kesehatan dianggap sebagai suatu hal terkait otonomi biologis individu, yang baru saja menjadi tujuan program kesehatan masyarakat, dahulu kesehatan berarti penyaluran kebutuhan untuk pekerja dan tentara, pengendalian jumlah penduduk, perlindungan terhadap kalangan elit tertentu, peningkatan cadangan genetik dalam populasi serta stabilitasi lingkungan.

2.    Peranan Kesehatan Masyarakat dalam mengatasi Epidemi
Pada permulaan abad pertama sampai kira-kira abad ke-7 kesehatan masyarakat makin dirasakan kepentingannya karena berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk dan telah menjadi epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi.
Penelitian John Snow tentang penyebab kematian karena kolera di London pada th 1848-1849 dan 1853-1854 telah memperlihatkan adanya asosiasi antara sumber air minum (sungai Thames) dan kematian karena kolera di distrik-distrik yang ada di Inggris. Akhirnya muncul teori tentang penyakit infeksi secara umum dan menyimpulkan penyakit kolera menyebar karena adanya air yang terkontaminasi (ini terjadi sebelum adanya penemuan organisme penyebab kolera) sehingga itu mendorong perbaikan mutu penyaluran air.
Upaya-upaya untuk mengatasi epidemi dan endemi penyakit-penyakit tersebut, orang telah mulai memperhatikan masalah lingkungan, terutama hygiene dan sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin), pengusahaan air minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah tercatat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.

3. Perkembangan Kesehatan Masyarakat pada Masa Liberalisme dan sesudahnya
Dekade setelah Perang  Dunia Kedua membawa pergeseran nilai yang ditandai dengan fokus dibidang kesehatan masyarakat dan harapan masyarakat. Di negara maju, penyakit menular yang telah begitu lama menjadi fokus utama kesehatan masyarakat telah surut, dengan polio menjadi yang terakhir dari epidemi yang mengejutkan, mampu menurunkan korban dengan pemberian imunisasi, antibiotik, atau pengendalian epidemiologi atau lingkungan (Rogers 1990). 
Masa perkembangan epidemiologi modern dimulai pada tahun 1950 an dumlai dengan studi follow up terhadap dokter-dokter di  Inggris untuk memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara kebiasaan merokok dan perkembangan penyakit kanker paru
Dengan penaklukan fasisme dan diikuti dengan runtuhnya komunisme, liberalisme muncul kembali. Ini dilambangkan dalam pernyataan  Badan Kesehatan Dunia (WHO), bahwa kesehatan dan kesejahteraan  adalah hak asasi bagi semua manusia (WHO 1968). Hal Ini adalah kewajiban bagi negara untuk memberikan hak tersebut kepada penduduknya mereka. Dalam beberapa kondisi, konflik antara kesehatan masyarakat sebagai suatu keharusan dan hak-hak sipil kembali muncul. Ini tetap menjadi isu yang paling tangguh yang harus dihadapi oleh kesehatan masyarakat. Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Kalau pada abad-abad sebelumnya masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dan pendekatan yang dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke-19 masalah kesehatan adalah masalah yang kompleks. Oleh sebab itu pendekatan masalah kesehatan harus dilakukan secara komprehensif, multisektoral.Disamping itu pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit. Louis Pasteur telah berhasil menemukan vaksin untuk mencegah penyakit cacar, Joseph Lister menemukan asam carbol (carbolic acid) untuk sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktu operasi.
Penyelidikan dan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah mulai dilakukan pada tahun 1832 di Inggris. Pada waktu itu sebagian besar rakyat Inggris terserang epidemi (wabah) kolera, terutama terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang miskin. Kemudian parlemen Inggris membentuk komisi untuk penyelidikan dan penanganan masalah wabah kolera ini.
Edwin Chadwich seorang pakar sosial (social scientist) sebagai ketua komisi ini akhirnya melaporkan hasil penyelidikannya sebagai berikut : Masyarakat hidup di suatu kondisi sanitasi yang jelek, sumur penduduk berdekatan dengan aliran air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah yang mengalir terbuka tidak teratur, makanan yang dijual di pasar banyak dirubung lalat dan kecoa. Disamping itu ditemukan sebagian besar masyarakat miskin, bekerja rata-rata 14 jam per hari, dengan gaji yang dibawah kebutuhan hidup. Sehingga sebagian masyarakat tidak mampu membeli makanan yang bergizi.
Laporan Chadwich ini dilengkapi dengan analisis data statistik yang bagus dan sahih. Berdasarkan laporan hasil penyelidikan Chadwich ini, akhirnya parlemen mengeluarkan undang-undang yang isinya mengatur upaya-upaya peningkatan kesehatan penduduk, termasuk sanitasi lingkungan, sanitasi tempat-tempat kerja, pabrik dan sebagainya. Pada tahun 1848, John Simon diangkat oleh pemerintah Inggris untuk menangani masalah kesehatan penduduk (masyarakat).
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan untuk tenaga kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas dan didalamnya terdapat sekolah (Fakultas) Kedokteran.
Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah diperhatikan. Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan penerapan ilmu di masyarakat.
Pengembangan kurikulum sekolah kedokteran sudah didasarkan kepada suatu asumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan hasil interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran / kesehatan.
Dari segi pelayanan kesehatan masyarakat, pada tahun 1855 pemerintah Amerika telah membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.
Departemen kesehatan ini sebenarnya merupakan peningkatan departemen kesehatan kota yang telah dibentuk di masing-masing kota, seperti Baltimor telah terbentuk pada tahun 1798, South Carolina tahun 1813, Philadelphia tahun 1818, dan sebagainya.
Pada tahun 1872 telah diadakan pertemuan orang-orang yang mempunyai perhatian kesehatan masyarakat baik dari universitas maupun dari pemerintah di kota New York. Pertemuan tersebut menghasilkan Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public Health Association).

C.  Sejarah dan Perkembangan Kesehatan Masyarakat di Negara Berkembang

Sejarah dan Perkembangan Kesehatan Masyarakat Awal Ilmu Kesehatan masyarakat
Penyakit kolera telah tercatat sejak abad ke-7 menyebar dari Asia khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan ke Afrika. India disebutkan sejak abad ke-7 tersebut telah menjadi pusat endemi kolera. Disamping itu lepra juga telah menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para emigran.
Pada abad ke-14 mulai terjadi wabah pes yang paling dahsyat, di China dan India. Pada tahun 1340 tercatat 13.000.000 orang meninggal karena wabah pes, dan di India, Mesir dan Gaza dilaporkan bahwa 13.000 orang meninggal tiap hari karena pes.
Menurut catatan, jumlah meninggal karena wabah pes di seluruh dunia waktu itu mencapai lebih dari 60.000.000 orang. Oleh sebab itu waktu itu disebut “the Black Death”. Keadaan atau wabah penyakit-penyakit menular ini berlangsung sampai menjelang abad ke-18. Disamping wabah pes, wabah kolera dan tipus masih berlangsung.
Telah tercatat bahwa pada tahun 1603 lebih dari 1 diantara 6 orang meninggal, dan pada tahun 1663 sekitar 1 diantara 5 orang meninggal karena penyakit menular. Pada tahun 1759, 70.000 orang penduduk kepulauan Cyprus meninggal karena penyakit menular. Penyakit-penyakit lain yang menjadi wabah pada waktu itu antara lain difteri, tipus, disentri dan sebagainya.Perdagangan Dunia selama abad ke 18 dan 19 dalam upaya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam membawa pada penjelajahan ke bagian lain dari dunia. Negara Eropa dan Amerika bersaing dalam penguasaan wilayah. Dalam upaya untuk mempertahankan teritorial masing-masing mereka menempatkan orang-orangnya secara bergantian dari satu tempat ke tempat lain untuk keperluan militer dan ekonomi. Ribuan warga Afrika dan Asia di bawa ke Amerika pada Abad ke-18 dan ke-19 untuk dipekerjaan di perkebunan atau pembuatan konstruksi rel kereta api. Kemudian mereka pun akan dipindahkan lagi ke India dan beberapa negara di asia untuk bekerja di perkebunan yang lebih luas. Dengan perluasan perdagangan dan penguasaan wilayah, penyakit menyebar ke seluruh dunia sepanjang rute perdagangan
Untuk melindungi kesehatan rakyat dan pekerjanya, penguasa kolonial menegakkan hukum serupa dengan yang berlaku di negaranya. Undang-undang kesehatan masyarakat yang spesifik bervariasi di setiap penguasa kolonial, namun jejak yang masih ada seperti undang-undang kesehatan masyarakat, undang-undang kepemerintahan, undang-undang sipil, undang-undang pabrik, undang-undang pemalsuan makanan, undang-undang vaksinasi dan undang-undang tentang penyakit menular masih berlaku selama beberapa dekade, seperti dibanyak negara di Asia, Pasifik, Negara Bagian Amerika dan Afrika sebagai bekas koloni Inggris, Spanyol, Prancis, Amerika ataupun Belanda masih berlaku. Para kolonial telah mencanangkan inisiatif penting dalam pencegahan dan pengendalian kesehatan masyarakat internasional melalui vaksinasi cacar yang awalnya diberikan pada para pekerja administrasi kolonial dan kemudian pada pekerja kasarnya.
Misionaris agama dari Eropa dan Amerika juga melakukan ekspedisi ke seluruh dunia bersama dengan kekuasaan kolonial. Banyak dari mereka, memiliki latar belakang medis allopathic, sehingga kemudian mendirikan lembaga-lembaga perawatan medis serta sistem pendidikan umum, termasuksekolah keperawatan danmedis. Misionaris ini mendirikan klinik kesehatan atau apotik pada awalnya dan kemudian berkembang menjadi rumah sakit di negara-negara kolonial.
Diakhir abad ke-18 terjadi suatu momentum peningkatan dalam pendidikan kesehatan masyarakat yaitu dengan pembentukan program sarjana dan pascasarjana yang dirancang khusus untuk kesehatan masyarakat, awalnya di negara-negara asal koloni kemudian di kembangkan di koloni-koloni mereka. 
Sekolah perintis kesehatan masyarakat didirikan di negara-negara kolonial di akhir abad  ke-19 dan awal abad ke-20, dengan maksud agar dapat berfungsi sebagai pusat untuk pengembangan kebijakan terkait kesehatan masyarakat, dan untuk melatih orang-orang yang akan melayani warga negaranya di wilayah kolonial atau pekerja di daerah tropis.
Namun, perkembangan aktual kesehatan masyarakat dan pelayanan keperawatan medis untuk masyarakat umum masih belum sempurna di negara-negara bekas wilayah jajahan. Jutaan orang yang bergerak ke daerah-daerah yang benar-benar asing telah menyebabkan tingginya insiden kematian dan cacat. Para pekerja yang terlantar sering meninggal karena cacar, malaria, demam kuning, tifus, tifoid, dan kolera, atau mereka telah dinonaktifkan kerja karena frambusia, kusta, dan sifilis. 
Terjangkitnya penyakit menular menjadi potensi hambatan yang sangat besar di daerah kolial baru. Hal ini memicu ledakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di awal abad ke-20, terutama di bidang fisika, mikrobiologi, biokimia, farmakologi dan diagnostik  dalam praktek kesehatan masyarakat.

Perkembangan Kesehatan Masyarakat yang berorientasi ilmu pengetahuan (science-oriented public health)
Negara-negara jajahan melihat akhir Perang Dunia Kedua sebagai awal dari berakhirnya kekuasaan penjajah. Negara-negara tersebut berharap untuk dapat membangun negaranya kearah perdamaian dan bangkit dari penderitaan dan kekurangan setelah bebas dari penjajahan. Kegiatan rekonstruksi untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial segera dilaksanakan untuk mengejar ketinggalan dengan memanfaatkan tehnologi yang ditinggalkan pada jaman penjajahan.
Pada masa awal dari periode rekonstruksi disebut sebagai  jaman kontradiksi dan peluang. Waktu untuk meningkatkan kemakmuran  di negara maju, dalam upaya penuntasan kemiskinan dari mereka yang kurang mampu di seluruh dunia. Periode ini juga disebut sebagai jaman peluang, yakni dalam melihat kemajuan ilmiah dan teknologi luar biasa sehingga mampu membuka   pemandangan  dan  kemungkinan tak terbatas untuk memecahkan  permasalahan kuno tentang kemiskinan dan penyakit (Gunaratne 1977).  Berbagai penemuan dan inovasi selama dan sesudah Perang Dunia Kedua memberikan dorongan luar biasa untuk aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti pesawat jet, microwave, radar, dan fasilitas telekomunikasi lainnya termasuk  satelit. Penemuan dan produksi massal kina, dichloro diphenyl trichloroethane (DDT), penisilin, dan sulfonamida, pengembangan vaksin  dan  obat baru yang efektif untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular, pengenalan pil KB dan suntikan, pengenalan dan penggunaan  komputer, dan perbaikan dalam pencitraan teknologi (X-ray dan CT scan) memfasilitasi aplikasi canggih dalam praktek kesehatan masyarakat. Kemajuan  dalam mikrobiologi dan imunologi memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan vaksin dan teknologi diagnostic. Sebuah pencapaian luar biasa dalam bidang pangan dan gizi adalah hilangnya virtual skala besar dari banyak kelaparan.

Sejarah keberhasilan Ilmu Kesehatan Masyarakat di negara berkembang (public health successes)
Keberhasilan terbesar dicapai oleh negara-negara berkembang pada abad kedua puluh adalah pencegahan dan pengendalian serta pemberantasan tuntas penyakit cacar, yaitu suatu penyakit menular  mengerikan yang telah ada sejak jaman dahulu. Sebagai tindakan pencegahan kesehatan masyarakat, inokulasi nanah diambil dari   kasus  cacar ke orang sehat, hal ini telah dipraktekkan di Asia sejak zaman kuno. Metode variolation menyebar ke Eropa dan bagian lain dunia pada abad ketujuh belas.  Saat itu telah disederhanakan dan banyak digunakan untuk pencegahan dan pengendalian cacar. Pada 1796, Edward Jenner memperkenalkan teknik modifikasi dari variolation dengan meng- gunakan bahan cacar sapi. Masyarakat ilmiah di Eropa perlahan-lahan menerima hasil eksperimen ini . Kemudian, masa  inokulasi  menggunakan bahan cacar sapi (disebut vaksinasi) diperkenalkan secara luas, di Inggris pertama dan kemudian di seluruh Eropa dan bagian lain dari dunia kolonial. Bahan vaksin yang telah dikeringkan pada kaca, itu bisa dikirim ke seluruh bagian dunia. Penerimaan yang lebih luas dari vaksinasi massal ini telah menyebabkan penyakit cacar berhenti menjadi ancaman utama di kebanyakan negara Eropa dan Amerika  pada  awal abad kedua puluh (Henderson 1997).
Pada awal abad kedua puluh, Prancis, kemudian diikuti oleh Belanda, memproduksi vaksin cacar yang beku dan kering dalam jumlah besar, yang diperuntukkan setiap tahunnya untuk koloni mereka sendiri di Afrika dan Asia. Institut Lister di London telah mengembangkan teknologi beku-kering untuk memproduksi vaksin di awal 1950-an. Sejak itu, vaksin beku-kering cacar stabil diproduksi komersial dengan skala besar dan telah menyebar ke negara-negara maju lain dan kemudian ke negara-negara berkembang yang baru merdeka.

Ringkasan
Kesehatan masyarakat merupakan elemen inti dari permasalahan-permasalahan yang merupakan bagian dari sejarah negara maju. Beberapa masalah penyakit dan epidemi yang timbul dengan keterbatasan ilmu pengetahuan dan tehnologi pada masa itu coba dipecahkan yang kini menjadi dasar-dasar pelaksanaan program kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Perkembangan kesehatan masyarakat di negara maju pada masa liberalisme, banyak menghasilkan penemuan-penemuan yang merubah cara pandang seluruh masyarakat di dunia terkait kesehatan masyarakat.
Perkembangan ilmu kesehatan di negara-negara berkembang merupakan dampak dari era penjajahan, negara-negara kolonial menerapkan kebijakan terkait kesehatan masyarakat di negara-negara jajahannya yang hingga saat ini masih diterapkan. Setelah era penjajahan, masing-masing negara bekas jajahan berupaya mengembangkan ilmu pengetahauan dan tehnologi yang ditinggalkan oleh negara-negara kolonial untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sosial serta upaya-upaya dalam bidang kesehatan masyarakat.   
Saat ini, pada abad 21 banyak masalah kesehatan masyarakat yang timbul di seluruh belahan dunia. Munculnya penyakit infeksi yang baru seperti: SARS, Flu burung maupun flu babi serta penyakit tidak menular yang dihadapi oleh Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan beberapa Negara industri lainnya.  Penyakit tidak menular dimulai dari penggunaan tembakau yang berlebihan (kebiasaaan merokok), pola makan tinggi lemak, konsumsi alkohol serta kurangnya aktifitas fisik. Sedangkan pada Negara berkembang, penyakit menular masih merupakan penyebab utama kematian diiringi dengan peningkatan kejadian penyakit tidak menular seperti di Negara maju karena meningkatnya kesejahteraan dan ekonomi masyarakat serta kondisi dan perilaku masyarakat yang tidak sehat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar